Rabu, 25 Juni 2014

Yogyakarta, kamu manis :*

Jl. Malioboro
Kata orang, banyak sajak indah di Malioboro. Saya percaya. Malam itu, dengan becak yang dikayuh lamban oleh seorang kakek 70 tahun, saya menyesap kedemaian di setiap tamparan angin malam itu. Di sepanjang jalan Malioboro, sorot lampu, petikan gitar, senandung pengamen jalanan, hingar-bingar penjajak dagangan, sepatu kuda, dan setiap dentum jantungku adalah ritme. Kami bersatu, menjadi sebuah melodi. Malioboro, adakah sepi walau hanya semalam?

 Cafe cantik dekat Hotel Utara
Di Yogyakarta, setiap pagi terasa manis. Pagi itu, saya sarapan sendiri, tapi tidak terasa sepi. Betapa Jogja menyimpan hamparan magis.

 Museum Benteng Vredeburg
Dua Sahabat saya ini, adalah pemanis setiap detik yang saya lalui, setiap kilometer yang kami tinggalkan, menjauh dari antagonisnya Ibu Kota. Mungkin, Jogja tidak akan semanis ini tanpa mereka.


House Of Raminten
Unik, antik dan elegant. Saya sangat jatuh cinta dengan kursi khas Jepang di sana, namanya 'Tatami'. Saya selalu punya keinginan untuk bawa pulang setiap sofa/kursi super enak di manapun tempat umum yang saya kunjungi. Kenyaman adalah harga mati. 

 Nol Kilometer Yogyakarta
Lihat, deh, wajah Pocongnya. Seram, kan? Tapi, di balik itu, Ia berbisik di telinga sahabat saya yang ketakutan, "Kamu jangan takut, di samping aku aja, biar nyaman." ha ha ha. By the way, Nol Kilometer cantik, jantungnya Jogja, setiap butir debu menari bak memegang panggungnya sendiri.

 Taman Lampion, Taman Pelangi
Taman Lampion. Subhanallah, di sana itu cantiiiiik sekali. Lampu-lampunya bikin bahagia. Iya, kamunya juga :*

 Jungwok Beach
Pantai Jungwok, Pantai perawan di kawasan Gunung Kidul. Luar biasa cantik, tak terjamah tangan-tangan kotor manusia kota. Garis pantai, segulung ombak, pecahan karang, pasir putih, adalah janji Tuhan surga itu nyata. Di sana, berteriaklah seolah tak satu pun orang yang mendengar. Kemudian lepaskan semua kegetiran, biarkan ia tergulung ombak. Tugasmu hanya tersenyum. 

 Meseum Gunung Merapi 
Museum ini berubah fungsi semenjak kedatangan kami berenam. Kepala Genk-nya kami adalah Utha.

 Please, jangan fokus ke kancutnya Mpit :)))

 Kalimilk #Neneners

 Rumah Makan Jejamuran


Jogjakarta, kalian istimewa :*


Diana Monica

Minggu, 25 Mei 2014

Detik

1.073.200 detik itu kusimpan.
Terimakasih untuk rasa yang hampir terlupakan.
Sekarang, saatnya mengobati luka yang coba-coba kugores dengan kesengajaan.
Terimakasih, luka ini menyenangkan.
Tolong jangan dilupakan.

Diana Monica,

Selasa, 07 Mei 2013

Perempuan Dalam Mimpi [Episode 2]

Lihat cerita sebelumnya Perempuan Dalam Mimpi Episode 1





Perempuan Dalam Mimpi

Episode 2

Masih di meja yang sama, di bawah senja yang sama dan masih dengan pemandangan perempuan yang sama di luar jendela. Sudah hampir 30 menit aku diam-diam memerhatikannya. Perempuan yang tempo hari kubuat bingung dengan ucapanku.

Aku tidak menyerah, kali ini aku akan kembali menghampirinya. Mengatakan bahwa tak hanya alam yang mencoba mempertemukan kita, tapi tangan Tuhan-lah yang bergerak mengatur semuanya, berkonspirasi dengan alam membentuk semua rangkaian pertemuan ini.

Semua sudah aku persiapkan, di tanganku ada sebuah buku berjudul 'Reinkarnasi Tidak Pernah Mati'. Di buku ini, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Seperti yang aku alami saat ini, semua seperti tak memiliki jawaban, tapi aku tetap meyakini. Kuharap buku ini bisa membantu.

Aku masih di sini, menunggu kakiku bergerak dengan sendirinya, seperti saat itu. Perempuan itu masih saja sama, tak sedikitpun bibirnya menyimpulkan senyuman. Padahal, aku yakin sekali wajahnya akan ribuan kali lebih cantik jika saja ia sedikit bermurah senyum.

Ya, kakiku mulai melangkah dengan sendirinya, berbarengan ketika perempuan itu meneguk kopi dinginnya. Jantungku berdegup sangat kencang.

Saat ini aku tengah berdiri tepat di hadapannya, perempuan itu menoleh, kemudian mengerutkan dahinya. Aku duduk tanpa izin di mejanya. Perempuan itu tampak tidak senang, ia bangkit hendak meninggalkanku.

"Reinkarnasi..." Ucapku terburu-buru sebelum ia mengabaikanku untuk kedua kalinya.

"Haa??" Perempuan itu menyiratkan ribuan keheranan di wajahnya.

"Kamu percaya pada reinkarnasi?" Tanyaku. Perempuan itu diam. "Aku yakin, di kehidupan sebelumnya kita saling kenal, bahkan mungkin sangat dekat. Apakah kau tidak bisa merasakannya? Entah apa yang telah atau mungkin belum sempat kita lakukan di kehidupan sebelumnya, hingga di kehidupan kali ini Tuhan mengagendakan mempertemukan kita kembali." Lanjutku.

Masih dengan wajah kesalnya, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi seolah menunggu penjelasan konyol dariku. "Okay, tell me. Who you are?"

"Namaku Saka, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya laki-laki biasa yang setiap malam kau teror melalui mimpi. Aku percaya, kau bukan hanya sekedar bagian dari mimpiku. Dan aku yakin, Tuhan memiliki misi tersendiri atas semua rangkaian pertemuanku denganmu, di mimpi, di sini, saat ini." Aku terus memandangi kedua bola matanya dengan penuh keyakinan, berharap tiap kata yang aku ucap dapat meresap ke setiap partikel dalam tubuhnya.

"Kau bacalah ini..." Aku menyodorkan sebuah buka yang sejak tadi kugenggam.

"Reinkarnasi Tidak Pernah Mati?" Ia membaca judul buku yang aku berikan.

"Ya. Jika kau ingin membantu misi Tuhan, temui aku kembali di sini setelah kau selesai membacanya." Pintaku dengan begitu banyak harap.
***

DIANA MONICA, 
#FlashFictionBersambung



Senin, 18 Februari 2013

Pernah

Pernah mencintai dengan sangat? Saya pernah. Pernah dicintai dengan sangat? Saya pun pernah..
Dikecewakan, disakiti, dilukai, dikhianati dan ditinggalkan. Semua seperti satu paket yang harus dengan mentah-mentah saya terima.
Seperti quote yang saya kutip dari sebuah Jejaring Sosial.
"Jatuh cinta adalah perihal perjalanan, dari satu kehilangan menuju kehilangan selanjutnya..."
Saya pernah kehilangan, dan sekarang saya sedang berjalan menuju kehilangan selanjutnya. Wish me luck :')

















Diana Monica,

Selasa, 15 Januari 2013

Surat Untuk Masa Depan

Kamu, apa kabar? Setelah Tuhan hilang sabar kemudian menghukumku, apa kamu tetap di sana? Menungguku? Ah, lancang sekali aku bertanya kesediaanmu menungguku. Setelah hampir di setiap kesempatan aku menyia-nyiakanmu.  
Kamu, maaf jika aku masih saja lancang memintamu dalam sujudku, merengek pada Tuhan agar kamu selalu hadir di hari-hari yang akan aku jalani kelak. Tuhan, Dia Maha Baik, Dia menjawab semua pertanyaan dalam sujudku tiap malam. Hingga esok hari, aku selalu menemukanmu. 
Kamu selalu datang, seperti janji Tuhan padaku. Lalu, apa aku bersyukur? Apa aku menjagamu? Tidak. Aku mengabaikanmu, aku menyia-nyiakan kebaikan Tuhan. Apa yang aku rundingkan pada-Nya aku buang dengan cuma-cuma. Seperti makhluk Tuhan yang penuh kesia-siaan, berkali-kali, sadar dan tanpa sadar, aku melewatkanmu. Hingga Tuhan murka padaku, pada kelalaianku, pada rasa syukurku yang perlu didongkrak habis-habisan.  
Di situ tangan Tuhan bergerak, menyentuh hatiku agar segera sadar. Aku sadar. Tapi, rupanya Tuhan ingin menyentilku. Titik sadarku berbanding lurus dengan perginya kamu dari hariku. Aku lalai, kamu ada. Aku sadar, kamu pergi. Betapa Tuhan Maha Adil.  
Maka, izinkan aku kali ini setia pada waktu, seperti kala kamu setia pada kelalaianku dahulu. Bujuk Tuhanmu, untuk kembali berbaik hati mengembalikanmu ke hariku. Aku membutuhkanmu, seperti senja yang menyingsing gelap, seperti manusia yang menyongsong masa depan. 
Kamu, tetap duduk manis di sana. Aku sedang menunggu Tuhan meniup peluitnya. Setelah itu, aku akan berlari sekencang hujan mengejar bumi. Menujumu. Masa depanku. 

Aku,



#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 09 Januari 2013

Sembilan Januari

Jendela kamarku berembun. Ada titik-titik air hujan menempel di sana. Indah? Absolutely, yes! Cantik bukan main. Sejak semalam hujan tak berhenti berhamburan jatuh ke tanah. 
Hari ini tanggal sembilan, ulang tahunku. Tak ada yang aku special-kan hari ini. Tidak se-exited seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tak lagi banyak meminta. Minta jatah uang traktir teman-teman, minta kado ini-itu, nasi kuning, kue tart. Semua itu tak lagi aku lakukan di tahun ini. Apa aku sudah bisa disebut dewasa? Hihihi. 
Tahun ini aku lebih menghargai arti sebuah doa, meng-amin-i semua doa yang mereka kirimkan untukku. "Tuhan, kabulkan doa yang mereka kirim untukku hari ini." 
Selamat ulang tahun, Diana Monica. Selamat berlari sekuat hati menuju garis finish. Aku percaya, Tuhan dan doa orang yang mengasihiku setia menyertai langkahku :')


Diana Monica,

Selasa, 01 Januari 2013

2012

Hey, 2012. Tahun yang diperkirakan banyak orang akan menjadi akhir. Seperti tahun yang sudah-sudah tidak pernah ada resolusi yang saya buat di awal pergantian tahun, seperti biasa saya selalu santai menghadapi tahun. Tapi, tanpa menimbang-nimbang sebelumnya, mari saya sebut tahun ini adalah tahun terberat, sepertinya. Kenapa berat? Rahasia ajalah, biar saya dan draft agenda hidup saya yang tau. Bahkan di tahun berat pun saya masih santai. Sampai kapan? Mari kita lihat hingga di blog saya nanti ada postingan ber-title 2013 atau seterusnya.

Hey, 2013. Untuk pertama kalinya, saya akan membuat sebuah resolusi. Selamat, kamu menjadi tahun pertama yang saya jatuhkan sebuah resolusi awal tahun. So, be a nice please, 2013. Apa resolusi saya?

SERIUS!!!

Tahun ini saya akan menjadi pribadi yang lebih serius, dalam hal apa pun. Saya tidak mungkin melulu menjadi belia 17 tahun, waktu tidak akan ikut menjadi santai kalau saya terus bersikap santai. Time flies, waktu akan tetap pada jalurnya, tetap berlalu. 

Terimakasih, 2012. Untuk 366 hari yang diberikan sepenuhnya untuk saya tanpa kurang satu detik pun. Selamat datang 2013, semoga resolusi perdana saya berjalan dengan baik.

Happy new year, everyone \m/



Diana Monica

Jumat, 21 Desember 2012

HUJAN~






Air hujan, dia paling teguh
Semesta, dia punya kuasa
Langit, berkehendak sesuka hati
Meminta air hujan pergi dan kemudian diminta untuk kembali
Tapi, air hujan tetap setia mencari jalan untuk kemudian bersatu kembali dengan langit. 
Tak peduli berapa pun dia dihempas ke bumi.

Diana Monica,







tak ada waktu tuk menjelaskan
tak sangka ini kan datang
tiap liku berbagi hidup
sejenak melepas lelah
kautinggalkan diriku

ingat kembali yang terjadi
tiap langkah yang kita pilih
meski terkadang perih
harapan untuk yang terbaik
sekeras karang kita coba

tak akan kuhalangi
walau ku tak ingin kaupergi
kan kubangun rumah ini
walau tanpa dirimu 

waktu hujan turun 
di sudut gelap mataku
begitu derasnya
kan kucoba bertahan


Rabu, 19 Desember 2012

Dandelion

Seperti kelopak Dandelion yang terhempas angin, mengangkasa di udara tanpa pernah diizinkan jatuh ke tanah untuk menaburkan bibit baru sebuah kehidupan. Seperti itulah rinduku hidup, tetap ada walau tanpa izin.















Diana Monica,

Rabu, 12 Desember 2012

Masih Meja Yang Sama

Pukul sembilan malam. Di kios yang biasa kita kunjungi, meja di sudut tepi jalan, dua cheese burger ukuran besar, empat teh botol di atas meja, lampu redup berwarna kuning dan tentu saja gelak tawa kita yang beradu saut dengan knalpot kendaraan. Kesunyian malam yang menenangkan mana lagi yang tak patut kusyukuri? Tapi, tempat ini, malam ini, terasa berbeda. Tanpamu...



Diana Monica,

Kamis, 06 Desember 2012

Sambatan Semu

Apa yang kamu khawatirkan?
Tak ada, Tak perlu. Aku baik-baik saja di sini.
Setidaknya, bibirku masih sanggup melengkung indah sebagaimana mestinya.
Waktu dan jarak sudah lama aku kalahkan, bahkan jauh sebelum kamu benar-benar pergi.
Keberhasilanmu mengalahkan egoku yang seringkali merengek memintamu untuk datang semauku menjadi alasan mengapa aku masih tegak sampai detik ini. Terima kasih untuk itu.
Hanya saja... Kali ini aku seperti kehilangan alasan untuk bertemu hari esok.



Diana Monica,

Selasa, 04 Desember 2012

Ada yang harus dilepaskan untuk tau rasanya lega,
Ada yang harus menghilang untuk tau rasanya sesal,



Zarry Hendrik,

Sabtu, 17 November 2012

Hati

Tap tap tap... Suara langkah kaki semakin jelas terdengar. Kugandakan tenagaku untuk membereskan pecahan beling berwarna merah di tangan kiriku. Sesekali terasa beberapa pecahan beling menusuk permukaan kulit jari-jari tanganku. Aaah terlambat, ia sudah tepat di hadapanku sekarang.
 "Kau Sedang apa?" Tanyamu kemudian berlutut mencari wajahku yang tengah sibuk mengumpulkan pecahan beling.
"Bukan apa-apa." Jawabku tak menghiraukanmu. 
"Mari kubantu." 
"TIDAK PERLU!" Bentakku seketika. "Tidak Perlu. Kau pergilah." Aku mengulang ucapanku. Tapi kali ini jauh lebih lembut. 
"Apa yang terjadi?" Tanyamu yang masih berlutut memperhatikanku membereskan pecahan beling yang berserakan di lantai. 
Aku tak menghiraukanmu, aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Perih sekali rasanya, entah apa yang terjadi ada perih yang luar biasa tapi entah di mana letaknya. Air mataku mengalir tanpa perintah, entah apa tujuannya. Tuhan, apa ada yang salah dengan sistem pada tubuhku? Mengapa tanggul air mataku jebol begitu saja? Aku malu, Tuhan. 
"Hei, kau kenapa?" Kau menarik wajahku yang basah diguyur air mata. Pandanganmu menikam wajahku, aku benci situasi seperti ini. Kubuang jauh-jauh wajahku dari tanganmu. Aku melanjutkan mengumpulkan pecahan beling di lantai. 
"Aaahhh...!!!" Satu pecahan beling menancap di ibu jariku, darah segar mengucur setelahnya. Brengsek sakit sekali. 
"HEY, SUDAHLAH," Bentakmu setelah melihat darah mengalir dari tubuhku. "Apa yang terjadi? Mengapa di sini begitu berantakan?" Kau menurunkan volume suaramu, kemudian menghisap luka di jariku. 
"Bukankah kau yang memecahkannya? Kau yang membuatnya berantakan?" Tatapanku sinis ke arahmu, masih dengan air mata yang mengalir dan membanjiri wajahku. Kuhempaskan tanganku dari genggamanmu, kemudian kembali mengumpulkan pecahan beling tadi. 
Kini semua pecahan beling berwarna merah itu sudah terkumpul di tangan kiriku, mungkin ada beberapa yang hilang, tapi tak apa. Kemudian dengan cepat-cepat aku menelan semua pecahan beling itu ke dalam mulutku, semua, tanpa sisa. 
"HEY APA YANG KAU LAKUKAN?" Matamu membidik tajam. Sepertinya kau terkejut melihat tingkahku. 
"Yang sudah pecah dan hancur berantakan ini, tetap harus kembali ke tempatnya.."




Diana Monica,

Jumat, 16 November 2012

Bait Pertama

 Kamu .. Adalah bait pertama yang tak sudah-sudah kubaca :')


Diana Monica,

Kamis, 15 November 2012

Tiga Tahun Kemudian



Suatu hari.
Sebuah cincin. Ukirannya demikian indah, maka kuputuskan memakainya. Entah mengapa, ukurannya teramat kecil, cincin itu hanya termuat di kelingkingku.
Tanpa sengaja, aku bertemu seorang sahabat. Kamu, seperti biasa, menyadari sesuatu.
“Tumben pakai cincin.”
“Iya, iseng. Dioleh-olehin teman.”
***
Tiga bulan berlalu.

Hari aneh. Printer rusak. Tugas kuliah tertinggal. Lupa jadwal praktikum.
Kesialan terakhir hari itu adalah ketika kusadari bahwa cincinku terlepas dan hilang. Sepanjang perjalanan pulang, aku bersungut kesal.
Di gerbang kampus, berpapasan denganmu.
Spontan semua cerita terlontar. Yang terakhir, “cincinku hilang.”
Kamu tersenyum, menyahut cepat, “Tiga tahun lagi, kuganti, ya. Tapi pakainya di jari manis.”
***
Tiga tahun kemudian. Kamu menepati janji. Namun bukan jari manisku. Aku menyaksikan pernikahanmu, sahabatku.



-Repost- Cubiculum Notatum by @emiralda

Rabu, 14 November 2012

Makanan Lezat



"Hari ini kau ingin makan apa, Nak?" tanya bapak dengan peluh yang bercucuran di dahinya. Siang ini matahari menyorot begitu tajam.

"Apa saja, Pak. Pizza seperti kemarin aku juga suka atau ayam bakar tempo hari juga enak." jawabku, sambil memikirkan rentetan makanan di benakku.

"Baiklah, tunggulah sebentar lagi." jawabnya, sambil meletakkan karung besar yang dipikulnya hasil seharian mengorek sampah kemudian menyandarkan tubuh kecilnya di atas karung berbau busuk itu.

30 menit setelah kami menunggu. Seorang wanita paruh baya dengan daster merah kembang keluar dari pintu gerbang nan megah itu dengan kantung plastik hitam besar di tangannya dan meletakanya di sisi jalan.

"Mari, Nak. Makanan kita datang. Kira-kira hari ini menu-nya apa?"



Diana Monica,

Senin, 12 November 2012

Sup Daging


"Makanlah, bu!" kusodorkan sepiring nasi aking tanpa lauk-pauk.
"Kau saja yang makan, nak!"

"Tidak, bu. Perutku sudah kenyang." kuremas perutku yang tak sampai segenggam, sudah hampir lima hari tak ada makanan yang mampir ke perutku.

Kuperhatikan wajah ibuku. Tulang wajahnya menyembul, kulitnya juga mulai mengendur. Tanganya yang hanya sebesar gagang sapu gemetar menyuap setiap sendok nasi aking ke mulutnya.

"Bahkan ibu hampir lupa rasanya sup daging." ucapnya di sela suapan nasi akingnya.

***
"Ibu, mari bangun! Aku memasak sesuatu yang lezat." kuguncangkan tubuh ibuku. 
"Wah, sup daging?" wajahnya berbinar. 
"Ya, bu. Makanlah yang banyak!" ujarku sambil menahan rasa nyeri yang luar biasa di balik balutan perban di paha kananku.


Diana Monica,

Kamis, 08 November 2012

Cermin



"Apa yang kaulihat?" Tanyaku

"Itu.." Jawabnya sambil menunjukan jarinya pada seorang gadis yang sedang berlutut.

Aku ikut memperhatikan gadis itu. Kuperhatikan baik-baik. Gadis itu menangis.

"Dia menangis?" Tanyaku.

"Ya.." Zorra mengangguk pelan.

"Mengapa?" Aku bertanya lagi, kali ini Zorra tak menjawab.

"Lalu, apa yang kita lakukan di sini?" Zorra masih tak menjawab pertanyaanku, ia masih dengan tenang memperhatikan gadis itu.

"Sampai kapan kita akan bersembunyi di balik pohon seperti ini? Lututku hampir kaku, aku lelah."

"Kau diamlah, jangan banyak mengeluh seperti wanita." Zorra menarik lenganku, mengajakku berlutut dan bersembunyi di balik pohon pinus besar. Aku menurutinya.

Seketika langit gelap, hujan turun begitu deras setelahnya. Gadis itu masih dengan kesedihanya berlutut di tengah padang dandelion. Aku mengingat, tak ada angin yang berhembus sebelumnya dan tak ada sehelaipun kelopak dandelion yang terhempas. Lalu mengapa hujan tiba-tiba turun? Kucermati wajah gadis itu, air matanya tak lagi terlihat, tersamar rembasan air hujan yang tumpah di wajahnya. Kutatap langit, rupanya langit berkehendak, tak tega gadis itu menangis seorang diri. Di kejauhan sepasang wanita dan pria datang mendekat. Di bawah payung yang sama, mereka melangkah perlahan.

Rasanya seperti melihat pertunjukan sebuah teater, kunikmati alur ceritanya. Tak ada suara, aku hanya melihat raut wajah mereka dan membaca bahasa tubuhnya. Gadis itu masih tetap sama, berlutut dengan kesedihannya meskipun sepasang wanita dan pria tadi telah berdiri tepat di hadapannya. Entah apa yang membuatnya demikian, mungkin kesedihannya amat berat membebani punggung gadis itu. Aku meremas dadaku. Ada yang aneh, aku merasakan nyeri yang luar biasa di sini.

"Apa yang mereka bicarakan?"

"Diam dan lihat saja."

Pria itu memberikan sebuah payung pada gadis itu, sedang wanita yang satunya memayungi dirinya dan pria di sebelahnya. Gadis itu masih diam, masih dengan air mata yang tersamar hujan. Pria itu meringkuh, membuka payung yang hendak ia berikan dan memayungi gadis itu. Air matanya ikut tumpah, pria itu menangis.

"Mengapa ia turut menangis, Zorra?"

"Pria itu hendak meninggalkan gadis itu." Suara Zorra terdengar parau, kualihkan pandanganku pada Zorra. Sama sepertiku, Zorra pun tengah memegangi dadanya. Apa ia juga merasakan nyeri sepertiku? Aneh sekali. Aku kembali memerhatikan gadis dan sepasang wanita dan pria tadi. Pria itu menggenggam tangan gadis itu, kemudian mengarahkan tanganya ke gagang payung yang ia buka tadi, gadis itu menurutinya. Gadis itu memegangi payungnya dengan lemah, tanganya gemetaran. Kini air matanya kembali terlihat, air hujan yang sejak tadi menyamarkan air matanya kini tertahan payung. Kulihat mulutnya bergetar hebat, mungkin banyak kata yang tertahan di sana.

Benar saja, sepasang pria dan wanita itu melangkah pergi meninggalkan gadis itu. Langkah pria itu terasa berat, aku bisa merasakannya. Kini gadis itu kembali sendiri, di tengah hujan dan padang dandelion yang kelopaknya habis tersapu hujan. Tubuhnya lemas, payungnya pun terjatuh ke tanah. Air matanya kembali menyatu dengan hujan.

"Apa yang terjadi pada gadis itu?"

"Entahlah, mungkin ia akan hancur."

"Kenapa?"
"Pria itu membawa sebagian hatinya," Zorra melangkahkan kakinya dan meninggalkan tempat ini "Kalau pun ia bertahan hidup ia akan sekarat seumur hidup." Lanjutnya.
"Lantas mengapa pria itu meninggalkannya?" Tanyaku kemudian mengikuti langkahnya pergi.

"Entahlah, pria itu menyebutnya pilihan."

"Pilihan untuk apa?" Tanyaku terus menerus, Zorra pun tak kelihatan keberatan menjawab semua pertanyaanku.

"Entahlah, menurutmu?"

"Ah.. Aku mana tau, aku tak mengenal mereka," Jawabku sambil menggaruk-garuk merah di tanganku, sepertinya banyak semut merah di pohon tadi.

"Memang mereka tadi siapa? Kau mengenalnya?

Zorra tersenyum, lesung pipinya samar terlihat. "Pria itu namanya Sakka." Jawabnya

"Sakka? Seperti namaku. Lantas wanita yang bersamanya? Siapa namanya?" Tanyaku lagi.

"Entahlah, aku tak mengenalnya." Jawabnya ringan kemudian Zorra memetik setangkai ranting muda di tepi jalan yang kami lewati. Sambil berjalan ia mengayun-ayunkan tangkainya.

"Lalu, siapa nama gadis malang itu?"

"Namanya Zorra."  



***



Diana Monica,