Senin, 18 Februari 2013

Pernah

Pernah mencintai dengan sangat? Saya pernah. Pernah dicintai dengan sangat? Saya pun pernah..
Dikecewakan, disakiti, dilukai, dikhianati dan ditinggalkan. Semua seperti satu paket yang harus dengan mentah-mentah saya terima.
Seperti quote yang saya kutip dari sebuah Jejaring Sosial.
"Jatuh cinta adalah perihal perjalanan, dari satu kehilangan menuju kehilangan selanjutnya..."
Saya pernah kehilangan, dan sekarang saya sedang berjalan menuju kehilangan selanjutnya. Wish me luck :')

















Diana Monica,

Selasa, 15 Januari 2013

Surat Untuk Masa Depan

Kamu, apa kabar? Setelah Tuhan hilang sabar kemudian menghukumku, apa kamu tetap di sana? Menungguku? Ah, lancang sekali aku bertanya kesediaanmu menungguku. Setelah hampir di setiap kesempatan aku menyia-nyiakanmu.  
Kamu, maaf jika aku masih saja lancang memintamu dalam sujudku, merengek pada Tuhan agar kamu selalu hadir di hari-hari yang akan aku jalani kelak. Tuhan, Dia Maha Baik, Dia menjawab semua pertanyaan dalam sujudku tiap malam. Hingga esok hari, aku selalu menemukanmu. 
Kamu selalu datang, seperti janji Tuhan padaku. Lalu, apa aku bersyukur? Apa aku menjagamu? Tidak. Aku mengabaikanmu, aku menyia-nyiakan kebaikan Tuhan. Apa yang aku rundingkan pada-Nya aku buang dengan cuma-cuma. Seperti makhluk Tuhan yang penuh kesia-siaan, berkali-kali, sadar dan tanpa sadar, aku melewatkanmu. Hingga Tuhan murka padaku, pada kelalaianku, pada rasa syukurku yang perlu didongkrak habis-habisan.  
Di situ tangan Tuhan bergerak, menyentuh hatiku agar segera sadar. Aku sadar. Tapi, rupanya Tuhan ingin menyentilku. Titik sadarku berbanding lurus dengan perginya kamu dari hariku. Aku lalai, kamu ada. Aku sadar, kamu pergi. Betapa Tuhan Maha Adil.  
Maka, izinkan aku kali ini setia pada waktu, seperti kala kamu setia pada kelalaianku dahulu. Bujuk Tuhanmu, untuk kembali berbaik hati mengembalikanmu ke hariku. Aku membutuhkanmu, seperti senja yang menyingsing gelap, seperti manusia yang menyongsong masa depan. 
Kamu, tetap duduk manis di sana. Aku sedang menunggu Tuhan meniup peluitnya. Setelah itu, aku akan berlari sekencang hujan mengejar bumi. Menujumu. Masa depanku. 

Aku,



#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 09 Januari 2013

Sembilan Januari

Jendela kamarku berembun. Ada titik-titik air hujan menempel di sana. Indah? Absolutely, yes! Cantik bukan main. Sejak semalam hujan tak berhenti berhamburan jatuh ke tanah. 
Hari ini tanggal sembilan, ulang tahunku. Tak ada yang aku special-kan hari ini. Tidak se-exited seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tak lagi banyak meminta. Minta jatah uang traktir teman-teman, minta kado ini-itu, nasi kuning, kue tart. Semua itu tak lagi aku lakukan di tahun ini. Apa aku sudah bisa disebut dewasa? Hihihi. 
Tahun ini aku lebih menghargai arti sebuah doa, meng-amin-i semua doa yang mereka kirimkan untukku. "Tuhan, kabulkan doa yang mereka kirim untukku hari ini." 
Selamat ulang tahun, Diana Monica. Selamat berlari sekuat hati menuju garis finish. Aku percaya, Tuhan dan doa orang yang mengasihiku setia menyertai langkahku :')


Diana Monica,

Selasa, 01 Januari 2013

2012

Hey, 2012. Tahun yang diperkirakan banyak orang akan menjadi akhir. Seperti tahun yang sudah-sudah tidak pernah ada resolusi yang saya buat di awal pergantian tahun, seperti biasa saya selalu santai menghadapi tahun. Tapi, tanpa menimbang-nimbang sebelumnya, mari saya sebut tahun ini adalah tahun terberat, sepertinya. Kenapa berat? Rahasia ajalah, biar saya dan draft agenda hidup saya yang tau. Bahkan di tahun berat pun saya masih santai. Sampai kapan? Mari kita lihat hingga di blog saya nanti ada postingan ber-title 2013 atau seterusnya.

Hey, 2013. Untuk pertama kalinya, saya akan membuat sebuah resolusi. Selamat, kamu menjadi tahun pertama yang saya jatuhkan sebuah resolusi awal tahun. So, be a nice please, 2013. Apa resolusi saya?

SERIUS!!!

Tahun ini saya akan menjadi pribadi yang lebih serius, dalam hal apa pun. Saya tidak mungkin melulu menjadi belia 17 tahun, waktu tidak akan ikut menjadi santai kalau saya terus bersikap santai. Time flies, waktu akan tetap pada jalurnya, tetap berlalu. 

Terimakasih, 2012. Untuk 366 hari yang diberikan sepenuhnya untuk saya tanpa kurang satu detik pun. Selamat datang 2013, semoga resolusi perdana saya berjalan dengan baik.

Happy new year, everyone \m/



Diana Monica

Jumat, 21 Desember 2012

HUJAN~






Air hujan, dia paling teguh
Semesta, dia punya kuasa
Langit, berkehendak sesuka hati
Meminta air hujan pergi dan kemudian diminta untuk kembali
Tapi, air hujan tetap setia mencari jalan untuk kemudian bersatu kembali dengan langit. 
Tak peduli berapa pun dia dihempas ke bumi.

Diana Monica,







tak ada waktu tuk menjelaskan
tak sangka ini kan datang
tiap liku berbagi hidup
sejenak melepas lelah
kautinggalkan diriku

ingat kembali yang terjadi
tiap langkah yang kita pilih
meski terkadang perih
harapan untuk yang terbaik
sekeras karang kita coba

tak akan kuhalangi
walau ku tak ingin kaupergi
kan kubangun rumah ini
walau tanpa dirimu 

waktu hujan turun 
di sudut gelap mataku
begitu derasnya
kan kucoba bertahan


Rabu, 19 Desember 2012

Dandelion

Seperti kelopak Dandelion yang terhempas angin, mengangkasa di udara tanpa pernah diizinkan jatuh ke tanah untuk menaburkan bibit baru sebuah kehidupan. Seperti itulah rinduku hidup, tetap ada walau tanpa izin.















Diana Monica,

Rabu, 12 Desember 2012

Masih Meja Yang Sama

Pukul sembilan malam. Di kios yang biasa kita kunjungi, meja di sudut tepi jalan, dua cheese burger ukuran besar, empat teh botol di atas meja, lampu redup berwarna kuning dan tentu saja gelak tawa kita yang beradu saut dengan knalpot kendaraan. Kesunyian malam yang menenangkan mana lagi yang tak patut kusyukuri? Tapi, tempat ini, malam ini, terasa berbeda. Tanpamu...



Diana Monica,

Kamis, 06 Desember 2012

Sambatan Semu

Apa yang kamu khawatirkan?
Tak ada, Tak perlu. Aku baik-baik saja di sini.
Setidaknya, bibirku masih sanggup melengkung indah sebagaimana mestinya.
Waktu dan jarak sudah lama aku kalahkan, bahkan jauh sebelum kamu benar-benar pergi.
Keberhasilanmu mengalahkan egoku yang seringkali merengek memintamu untuk datang semauku menjadi alasan mengapa aku masih tegak sampai detik ini. Terima kasih untuk itu.
Hanya saja... Kali ini aku seperti kehilangan alasan untuk bertemu hari esok.



Diana Monica,

Selasa, 04 Desember 2012

Ada yang harus dilepaskan untuk tau rasanya lega,
Ada yang harus menghilang untuk tau rasanya sesal,



Zarry Hendrik,

Sabtu, 17 November 2012

Hati

Tap tap tap... Suara langkah kaki semakin jelas terdengar. Kugandakan tenagaku untuk membereskan pecahan beling berwarna merah di tangan kiriku. Sesekali terasa beberapa pecahan beling menusuk permukaan kulit jari-jari tanganku. Aaah terlambat, ia sudah tepat di hadapanku sekarang.
 "Kau Sedang apa?" Tanyamu kemudian berlutut mencari wajahku yang tengah sibuk mengumpulkan pecahan beling.
"Bukan apa-apa." Jawabku tak menghiraukanmu. 
"Mari kubantu." 
"TIDAK PERLU!" Bentakku seketika. "Tidak Perlu. Kau pergilah." Aku mengulang ucapanku. Tapi kali ini jauh lebih lembut. 
"Apa yang terjadi?" Tanyamu yang masih berlutut memperhatikanku membereskan pecahan beling yang berserakan di lantai. 
Aku tak menghiraukanmu, aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Perih sekali rasanya, entah apa yang terjadi ada perih yang luar biasa tapi entah di mana letaknya. Air mataku mengalir tanpa perintah, entah apa tujuannya. Tuhan, apa ada yang salah dengan sistem pada tubuhku? Mengapa tanggul air mataku jebol begitu saja? Aku malu, Tuhan. 
"Hei, kau kenapa?" Kau menarik wajahku yang basah diguyur air mata. Pandanganmu menikam wajahku, aku benci situasi seperti ini. Kubuang jauh-jauh wajahku dari tanganmu. Aku melanjutkan mengumpulkan pecahan beling di lantai. 
"Aaahhh...!!!" Satu pecahan beling menancap di ibu jariku, darah segar mengucur setelahnya. Brengsek sakit sekali. 
"HEY, SUDAHLAH," Bentakmu setelah melihat darah mengalir dari tubuhku. "Apa yang terjadi? Mengapa di sini begitu berantakan?" Kau menurunkan volume suaramu, kemudian menghisap luka di jariku. 
"Bukankah kau yang memecahkannya? Kau yang membuatnya berantakan?" Tatapanku sinis ke arahmu, masih dengan air mata yang mengalir dan membanjiri wajahku. Kuhempaskan tanganku dari genggamanmu, kemudian kembali mengumpulkan pecahan beling tadi. 
Kini semua pecahan beling berwarna merah itu sudah terkumpul di tangan kiriku, mungkin ada beberapa yang hilang, tapi tak apa. Kemudian dengan cepat-cepat aku menelan semua pecahan beling itu ke dalam mulutku, semua, tanpa sisa. 
"HEY APA YANG KAU LAKUKAN?" Matamu membidik tajam. Sepertinya kau terkejut melihat tingkahku. 
"Yang sudah pecah dan hancur berantakan ini, tetap harus kembali ke tempatnya.."




Diana Monica,