Kamis, 08 November 2012

Cermin



"Apa yang kaulihat?" Tanyaku

"Itu.." Jawabnya sambil menunjukan jarinya pada seorang gadis yang sedang berlutut.

Aku ikut memperhatikan gadis itu. Kuperhatikan baik-baik. Gadis itu menangis.

"Dia menangis?" Tanyaku.

"Ya.." Zorra mengangguk pelan.

"Mengapa?" Aku bertanya lagi, kali ini Zorra tak menjawab.

"Lalu, apa yang kita lakukan di sini?" Zorra masih tak menjawab pertanyaanku, ia masih dengan tenang memperhatikan gadis itu.

"Sampai kapan kita akan bersembunyi di balik pohon seperti ini? Lututku hampir kaku, aku lelah."

"Kau diamlah, jangan banyak mengeluh seperti wanita." Zorra menarik lenganku, mengajakku berlutut dan bersembunyi di balik pohon pinus besar. Aku menurutinya.

Seketika langit gelap, hujan turun begitu deras setelahnya. Gadis itu masih dengan kesedihanya berlutut di tengah padang dandelion. Aku mengingat, tak ada angin yang berhembus sebelumnya dan tak ada sehelaipun kelopak dandelion yang terhempas. Lalu mengapa hujan tiba-tiba turun? Kucermati wajah gadis itu, air matanya tak lagi terlihat, tersamar rembasan air hujan yang tumpah di wajahnya. Kutatap langit, rupanya langit berkehendak, tak tega gadis itu menangis seorang diri. Di kejauhan sepasang wanita dan pria datang mendekat. Di bawah payung yang sama, mereka melangkah perlahan.

Rasanya seperti melihat pertunjukan sebuah teater, kunikmati alur ceritanya. Tak ada suara, aku hanya melihat raut wajah mereka dan membaca bahasa tubuhnya. Gadis itu masih tetap sama, berlutut dengan kesedihannya meskipun sepasang wanita dan pria tadi telah berdiri tepat di hadapannya. Entah apa yang membuatnya demikian, mungkin kesedihannya amat berat membebani punggung gadis itu. Aku meremas dadaku. Ada yang aneh, aku merasakan nyeri yang luar biasa di sini.

"Apa yang mereka bicarakan?"

"Diam dan lihat saja."

Pria itu memberikan sebuah payung pada gadis itu, sedang wanita yang satunya memayungi dirinya dan pria di sebelahnya. Gadis itu masih diam, masih dengan air mata yang tersamar hujan. Pria itu meringkuh, membuka payung yang hendak ia berikan dan memayungi gadis itu. Air matanya ikut tumpah, pria itu menangis.

"Mengapa ia turut menangis, Zorra?"

"Pria itu hendak meninggalkan gadis itu." Suara Zorra terdengar parau, kualihkan pandanganku pada Zorra. Sama sepertiku, Zorra pun tengah memegangi dadanya. Apa ia juga merasakan nyeri sepertiku? Aneh sekali. Aku kembali memerhatikan gadis dan sepasang wanita dan pria tadi. Pria itu menggenggam tangan gadis itu, kemudian mengarahkan tanganya ke gagang payung yang ia buka tadi, gadis itu menurutinya. Gadis itu memegangi payungnya dengan lemah, tanganya gemetaran. Kini air matanya kembali terlihat, air hujan yang sejak tadi menyamarkan air matanya kini tertahan payung. Kulihat mulutnya bergetar hebat, mungkin banyak kata yang tertahan di sana.

Benar saja, sepasang pria dan wanita itu melangkah pergi meninggalkan gadis itu. Langkah pria itu terasa berat, aku bisa merasakannya. Kini gadis itu kembali sendiri, di tengah hujan dan padang dandelion yang kelopaknya habis tersapu hujan. Tubuhnya lemas, payungnya pun terjatuh ke tanah. Air matanya kembali menyatu dengan hujan.

"Apa yang terjadi pada gadis itu?"

"Entahlah, mungkin ia akan hancur."

"Kenapa?"
"Pria itu membawa sebagian hatinya," Zorra melangkahkan kakinya dan meninggalkan tempat ini "Kalau pun ia bertahan hidup ia akan sekarat seumur hidup." Lanjutnya.
"Lantas mengapa pria itu meninggalkannya?" Tanyaku kemudian mengikuti langkahnya pergi.

"Entahlah, pria itu menyebutnya pilihan."

"Pilihan untuk apa?" Tanyaku terus menerus, Zorra pun tak kelihatan keberatan menjawab semua pertanyaanku.

"Entahlah, menurutmu?"

"Ah.. Aku mana tau, aku tak mengenal mereka," Jawabku sambil menggaruk-garuk merah di tanganku, sepertinya banyak semut merah di pohon tadi.

"Memang mereka tadi siapa? Kau mengenalnya?

Zorra tersenyum, lesung pipinya samar terlihat. "Pria itu namanya Sakka." Jawabnya

"Sakka? Seperti namaku. Lantas wanita yang bersamanya? Siapa namanya?" Tanyaku lagi.

"Entahlah, aku tak mengenalnya." Jawabnya ringan kemudian Zorra memetik setangkai ranting muda di tepi jalan yang kami lewati. Sambil berjalan ia mengayun-ayunkan tangkainya.

"Lalu, siapa nama gadis malang itu?"

"Namanya Zorra."  



***



Diana Monica,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar