Sabtu, 29 September 2012

Surat Pertama Untuk Lelaki Terakhir - @ekaotto

Jakarta, 13 Juli 2012

“Marry me..” katamu.

Jujur, ini bukan kali pertama seseorang mengajakku menikah, tapi bisa dilihat sampai saat ini status di Kartu Tanda Pengenalku masih saja single. Dan sebulan ini kalimat semacam itu hadir lagi, terngiang di tiap percakapan yang aku dan dia mulai. Aku tersenyum, bahagia mengetahui ada hati yang ingin mengabiskan masa tua dengan menyimpanku di dalamnya.

Ini surat pertama untuk lelaki terakhirku, entah siapapun dia nanti. Aku bukan wanita baik-baik, aku masih penuh dilumuti gengsi atas nama perempuan, aku punya masa lalu yang tidak baik, di kehidupan sehari-hari hingga masalah hati. Entah ada berapa banyak mantan pacarku, jariku kehabisan untuk menghitung jumlah mereka.

Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, aku tidak secantik mereka, aku tidak mempunyai ukuran badan idola wanita kebanyakan, tidak tinggi, rambut gampang kusut, tidak begitu pandai memasak, tidak suka olah raga, entah apa yang kamu lihat dan temukan dalam diriku hingga kamu berani nekat menawarkan masa depanmu di tangan cerita kita.

Aku ingin menikah. Bukan karena dikejar usia, bukan karena kemauan orang tua, bukan karena begah karena kesinisan mereka. Aku ingin menikah karena hatiku telah menemukan penghuni yang bisa dipercaya untuk tidak melukai dan menjaganya dengan baik.

Lelaki terakhirku, apa kamu mau menerima ku dan masa laluku dalam satu paket untuk kita gunakan membangun masa depan? Jangan khawatir atas masa lalumu, ketika aku telah memutuskan untuk menggenggam tanganmu di kencan pertama kita, artinya aku telah menggenggammu secara utuh tanpa memicingkan mata pada apa yang telah kamu sesali di belakang.

Lelaki terakhirku, aku harap dia kamu. Lelaki yang kini masih saja keras kepala meragukan keseriusanku, meragukan penghuni isi hatiku.

Dengar, keras kepala.. mereka mungkin pernah penting dalam hidupku dulu, saat aku belum mengenalmu, satu perlu kamu ingat, serusak apapun jarum jam, ia tidak akan berputar mundur. Begitupun ceritaku, untuk menyatukan aku dan kamu, kita tidak perlu bertengkar hebat sampai jarum jam patah untuk sekedar tersangkut di  masa lalu, untuk menyambut sebuah kita, aku dan kamu hanya butuh hari ini, dan esok yang biasa mereka sebut dengan “masa depan”.

Seperti yang tadi aku katakan, aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi satu yang aku pastikan, kamu akan menjadi satu-satunya penghuni di hatiku, hari ini dan esok.
Jadikah menua dengan bahagia bersama kita hari ini dan esok?

Wanita terakhirmu.




by - @ekaotto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar