Selasa, 15 Januari 2013

Surat Untuk Masa Depan

Kamu, apa kabar? Setelah Tuhan hilang sabar kemudian menghukumku, apa kamu tetap di sana? Menungguku? Ah, lancang sekali aku bertanya kesediaanmu menungguku. Setelah hampir di setiap kesempatan aku menyia-nyiakanmu.  
Kamu, maaf jika aku masih saja lancang memintamu dalam sujudku, merengek pada Tuhan agar kamu selalu hadir di hari-hari yang akan aku jalani kelak. Tuhan, Dia Maha Baik, Dia menjawab semua pertanyaan dalam sujudku tiap malam. Hingga esok hari, aku selalu menemukanmu. 
Kamu selalu datang, seperti janji Tuhan padaku. Lalu, apa aku bersyukur? Apa aku menjagamu? Tidak. Aku mengabaikanmu, aku menyia-nyiakan kebaikan Tuhan. Apa yang aku rundingkan pada-Nya aku buang dengan cuma-cuma. Seperti makhluk Tuhan yang penuh kesia-siaan, berkali-kali, sadar dan tanpa sadar, aku melewatkanmu. Hingga Tuhan murka padaku, pada kelalaianku, pada rasa syukurku yang perlu didongkrak habis-habisan.  
Di situ tangan Tuhan bergerak, menyentuh hatiku agar segera sadar. Aku sadar. Tapi, rupanya Tuhan ingin menyentilku. Titik sadarku berbanding lurus dengan perginya kamu dari hariku. Aku lalai, kamu ada. Aku sadar, kamu pergi. Betapa Tuhan Maha Adil.  
Maka, izinkan aku kali ini setia pada waktu, seperti kala kamu setia pada kelalaianku dahulu. Bujuk Tuhanmu, untuk kembali berbaik hati mengembalikanmu ke hariku. Aku membutuhkanmu, seperti senja yang menyingsing gelap, seperti manusia yang menyongsong masa depan. 
Kamu, tetap duduk manis di sana. Aku sedang menunggu Tuhan meniup peluitnya. Setelah itu, aku akan berlari sekencang hujan mengejar bumi. Menujumu. Masa depanku. 

Aku,



#30HariMenulisSuratCinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar